Bisolvon Tablet Mengandung Bromhexine, Apakah Itu?

  • July 5, 2021

Bisolvon tablet merupakan obat yang cukup ampuh mengatasi batuk berdahak. Hal ini disebabkan oleh kandungan bromhexine di dalamnya.

Tidak banyak yang mengetahui tentang kandungan satu ini dan juga efek samping apa yang bisa ditimbulkan saat mengonsumsinya. Berikut adalah penjelasannya.

Apa itu Bromhexine?

Bromhexine merupakan obat yang digunakan untuk mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan sehingga membantu melegakan pernapasan Anda saat mengalami batuk berdahak. Salah satu merk yang menggunakan obat ini adalah Bisolvon tablet.

Obat ini bekerja dengan mengencerkan dahak kental yang mengganggu di saluran pernapasan sehingga dapat dengan mudah Anda keluarkan sekaligus saat batuk. Dahak bisa muncul karena berbagai masalah kesehatan, seperti demam, infeksi saluran pernapasan, flu, dan lainnya.

Tidak hanya dalam bentuk tablet, bromhexine juga kadang terdapat dalam bentuk sirup untuk mempermudah pengenceran dahak. Obat yang tergolong dalam kelas mukolitik ini juga dapat membantu mekanisme alami tubuh untuk menyingkirkan dahak penyebab radang di tenggorokan. 

Di dalam satu tablet Bisolvon terkandung 8 mg Bromhexine Hydrochloride. Setelah penggunaan, umumnya Anda akan sering batuk untuk membantu mengeluarkan dahak yang sudah mengencer. 

Efek samping Bromhexine

Sama seperti semua jenis obat, bromhexine juga memiliki efek samping tersendiri. Umumnya, obat ini dapat diterima baik namun bisa saja ada efek samping yang muncul.

Beberapa efek samping yang bisa terjadi antara lain:

  • Reaksi sensitif terhadap kekebalan tubuh
  • Gangguan sistem pencernaan
  • Ruam kulit
  • Gangguan pernapasan
  • Mual dan muntah
  • Kelelahan
  • Diare
  • Mulut kering
  • Sakit kepala dan berkunang-kunang
  • Kelopak mata membengkak (sekitar mata, wajah, bibir, atau lidah juga bisa terjadi) karena reaksi alergi
  • Nocturnal enuresis (sering kencing di malam hari)
  • Iritasi telinga
  • Keringat dingin

Selain efek samping yang bisa terjadi, ada beberapa efek samping yang jarang terjadi dan lebih serius, seperti syok anafilaktik, bronkospasme, angioedema, infeksi saluran pernapasan, infeksi tenggorokan, urtikaria, dan pruritus.

Apabila Anda mengalami beberapa efek samping serius di atas, jangan diabaikan dan segera periksakan ke dokter. Sebab, bromhexine juga bisa menyebabkan masalah kesehatan serius. 

Kontraindikasi Bromhexine

Dengan berbagai macam risiko efek samping, baik yang ringan maupun yang serius, tentunya bromhexine memiliki kontraindikasi untuk kondisi kesehatan tertentu. Berikut adalah kondisi-kondisi yang tidak disarankan untuk mengonsumsi bromhexine:

1. Kerusakan organ hati

Risiko efek samping yang bisa muncul akibat bromhexine bisa menurunkan kondisi kesehatan, penggunaan obat ini harus berhati-hati bila Anda memiliki riwayat penyakit hati. Konsultasikan kepada dokter untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko serta mendapatkan dosis yang tepat.

2. Tukak lambung

Bromhexine dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki tukak lambung atau pernah mengidapnya. Oleh karena itu obat ini tidak disarankan bila Anda memiliki riwayt penyakit tukak lambung dan pencernaan lainnya.

3. Ibu hamil

Ibu hamil tidak dianjurkan mengonsumsi obat ini kecuali benar-benar dibutuhkan. Sebelum Anda mengonsumsi obat ini, konsultasikan pada dokter mengenai komplikasi dan manfaat yang bisa Anda dapatkan agar menghindari kemungkinan buruk pada janin maupun Anda sendiri.

4. Ibu menyusui

Selain ibu hamil, ibu menyusui juga tidak disarankan mengonsumsi obat ini selama menyusui, sebab bromhexine di dalam Bisolvon tablet dan merk lainnya bisa terbawa ke dalam ASI. Saat terminum oleh bayi, kemungkinan besar bisa menyebabkan efek samping yang serius pada bayi. 

Mengonsumsi obat-obatan memang tidak bisa sembarangan, bahkan obat-obatan yang dapat Anda beli dengan bebas di apotek. Sebab semua obat memiliki efek samping dan kontraindikasi yang perlu diperhatikan.

Selain kondisi kesehatan yang termasuk golong kontraindikasi, tentunya aman untuk mengatasi batuk berdahak dengan menggunakan Bisolvon tablet. Apabila gejala batuk tak kunjung membaik selama beberapa minggu, segera periksakan ke dokter. 

Khasiat dan Kegunaan Obat Encephabol untuk Fungsi Otak

  • June 9, 2021

Encephabol adalah obat yang umumnya digunakan untuk terapi kondisi yang melibatkan otak, misalnya pasca bedah otak, cedera serebrovaskular, dan banyak lainnya. 

Enephabol mengandung pyritinol dihydrochloride (diHCl) monohydrate 100 mg. Pyritinol termasuk ke dalam nootropik yang berfungsi meningkatkan fungsi kognitif. Karena itu tak jarang banyak orang menggunakan enephabol untuk meningkatkan konsentrasi dan daya ingat mereka. 

Apa itu pyritinol, senyawa dalam Encephabol?

Pyritinol atau juga dikenal sebagai pyrithioxine adalah senyawa dengan dua molekul vitamin B6 yang diikat oleh dua atom belerang (disulfida). Encephabol yang dipasarkan di Indonesia mengandung pyritinol dihydrochloride (diHCl) monohydrate, yang merupakan turunan dari pyritinol. 

Secara historis, senyawa ini telah digunakan di negara-negara Eropa untuk terapi pengobatan demensia dan masalah penurunan kognitif pada orang tua. 

Khasiat dan kegunaan Encephabol

Encephabol tablet 100 mg diindikasikan untuk mengatasi kondisi seperti trauma kranioserebral, kondisi sesudah bedah otak, cedera serebrovaskular dan proses degeneratif serebral, profilaksis keadaan bingung pasca narkotik, kondisi sesudah anoksia serebral (sesudah henti jantung).

Selain itu, berikut cara kerja dan khasiat pyritinol (Encephabol):

  1. Terlibat dalam fungsi saraf neuron

Pyritinol terlibat dalam pemulihan dan perbaikan neuron kolinergik yang rusak, meningkatkan kadar asetilkolin dan penyerapannya. Asetilkolin merupakan neurotransmitter penting bagi tubuh yang berperan dalam menstimulasi otot sehingga bisa menyampaikan sinyal pesan dari satu sel ke sel lainnya. 

Asetilkolin terlibat dalam banyak proses penting, seperti konsentrasi, daya ingat, dan kinerja otot. Ketika kadar asetilkolin berkurang, proses penting tersebut akan terganggu. Fungsi asetilkolin yang terganggu juga terkait dengan beberapa penyakit termasuk Alzheimer, Parkinson, dan Myasthenia Gravis. 

Penelitian juga membuktikan bahwa terapi pengobatan pyritinol dapat meringankan kondisi pasien dengan sindrom Tourette. 

  1. Meringankan gejala disleksia

Disleksia adalah gangguan belajar pada anak-anak yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam APA menemukan bahwa terapi dengan Encephabol dapat mengurangi gejala disleksia, diskalkulia, atau disortografi pada anak-anak. 

  1. Meringankan gejala epilepsi

Sebuah penelitian menemukan bahwa terapi pengobatan Encephabol dapat meningkatkan fungsi kognitif pada pasien epilepsi berusia kurang dari 12 tahun hingga di atas 12 tahun. Dalam penelitian tersebut, sebelum pemberian obat pasien epilepsi menunjukkan kesalahan kognitif yang besar, kecepatan membaca rendah, dan pembelajaran yang buruk. 

Setelah pemberian Encephabol, pasien menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kesalahan pembelajaran menurun, dan kecepatan membaca meningkat. Terapi ini juga tidak menyebabkan efek samping dan memperparah kejang. 

Selain untuk fungsi kognitif, pyritinol juga efektif untuk mencegah mabuk sehingga terkadang dipasarkan sebagai pil anti-mabuk. Dalam sebuah penelitian in vivo, pyritinol juga ditemukan efektif mengurangi gejala yang berhubungan dengan  rheumatoid arthritis.

Dosis dan aturan penggunaan

Pyritinol adalah senyawa yang semi-larut dalam air yang bisa dikonsumsi sebelum makan. Namun dianjurkan untuk mengonsumsinya setelah makan dengan menelannya secara utuh. Untuk anak-anak, konsumsi 1 tablet sebanyak 3 kali sehari, sedangkan untuk orang dewasa 2 tablet sebanyak 3 kali sehari. 

Catatan

Di Indonesia, Encephabol dipasarkan sebagai obat bebas yang bisa digunakan tanpa resep dokter. Namun ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakannya, terutama jika Anda merupakan wanita hamil, ibu menyusui, atau pasien rheumatoir arthritis.

Hindari penggunaan Encephabol jika Anda memiliki gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, perubahan serius pada penghitungan darah, dan menderita penyakit autoimun seperti lupus erythematosus, myasthenia, dan pemfigus.