Cara Menghilangkan Rasa Gatal pada Bekas Jahitan dengan Pelembap Alami

  • October 28, 2021

Rasa gatal pada kulit bisa timbul karena berbagai sebab. Bekas jahitan yang menghiasi kulit Anda karena pernah dioperasi pun tidak jarang menimbulkan sensasi gatal yang membuat Anda tidak nyaman. Pada saat rasa gatal itu tiba, Anda pasti akan langsung mencari cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan

Yang perlu diketahui, tidak jarang rasa gatal di jahitan timbul akibat area tersebut terlalu kering. Anda mungkin terlalu sering atau seringnya terpapar sinar matahari dapat menjadi penyebabnya. Jika demikian, Anda perlu memikirkan cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan menggunakan pelembap agar hidrasi di kulit bisa kembali dan rasa gatal lekas menepi. 

Anda dapat menggunakan krim pelembap yang umumnya mengandung vitamin E. Namun, Anda juga dapat mempertimbangkan bahan-bahan alami yang terbukti ampuh melembapkan kulit ini sebagai cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan yang mengganggu. 

Luka bekas operasi caesar

Daun Mimba 

Daun mimba merupakan tumbuhan khas Hindustan yang telah lama digunakan sebagai pelembap alami kulit untuk menjaga dan memelihara kecantikan. Tanaman yang tenar dengan sebutan nee mini nyatanya juga bisa mengurangi rasa gatal di berbagai area kulit Anda, tidak terkecuali di bekas jahitan. Soalnya, daun mimba memiliki sifat antibakteri dan anti inflamasi sehingga bekas jahitan Anda tidak hanya bisa lebih lembap, melainkan pula lebih steril dan terhindar dari peradangan yang tidak jarang pula menjadi pemicu rasa gatal. 

Chamomile 

Chamomile tidak hanya cocok untuk diseruput sebagai teh. Bunga berkelopak putih sejenis aster ini juga efektif membuat kulit lebih tenang sehingga rasa gatal yang Anda rasakan bisa lekas berkurang. Chamomile sudah cukup lama dikenal sebagai pelembap alami untuk mengobat ruam, jerawat, psoriasis, dan penyakit yang menimbulkan gejala gatal lainnya. Anda pun layak mencobanya menjadi cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan. 

Mentimun

Tidak sulit untuk menemukan mentimun di dapur Anda, bukan? Pilihannya lainnya, Anda bisa langsung membeli mentimun di pasar maupun supermarket karena sayuran ini tidak tergolong langka. Mentimun sendiri terkenal dengan rasa segarnya, yan ternyata juga bermanfaat menjadi cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan. Ini karena mentimun yang segar mampu mengembalikan kelembapan dan mempunyai efek menenangkan kulit yang rusak. 

Lidah Buaya 

Lidah buaya kerap disebut sebagai tumbuhan paling ampuh untuk melembapkan kulit. Karena alasan ini pula, lidah buaya sering dijadikan bahan dasar untuk pembuatan berbagai produk pelembap maupun perawatan kulit lainnya. Anda pun dapat menggunakan bahan alami ini untuk mengurangi gatal di bekas jahitan. Selain memiliki beragam jenis vitamin untuk membuat kulit lebih lembap, lidah buaya juga mengandung enzim dapat mengurangi peradangan yang seringkali memantik rasa gatal di area kulit Anda. 

Minyak Kelapa 

Memakai minyak kelapa sebagai cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan juga bisa Anda coba! Jenis minyak alami ini mampu mencegah penguapan kelembapan sehingga area bekas luka terhindar dari kondisi kering yang memicu peradangan semakin parah. Bukan hanya itu, minyak kelapa juga memiliki sifat menenangkan yang membuat rasa gatal cepat berkurang. 

Alpukat 

Alpukat mengandung lemak tinggi yang dapat menambah kelembapan kulit ANda. Selain itu, buah yang satu ini juga kaya akan antioksidan yang bisa mencegah kerusakan area bekas luka akibat paparan radikal bebas dari sinar matahari. Karena alasan inilah, rasa gatal pada bekas luka bisa segera mereda ketika Anda mengoleskan pasta alpukat di area tersebut. 

Yogurt 

Sebenarnya bukan hanya yogurt, berbagai produk susu yang mengalami fermentasi bisa Anda jadikan cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan maupun area kulit lainnya. Ini karena produk-produk susu fermentasi mengandung asam laktat yang sangat efektif menghidrasi kulit. Produk-produk tersebut juga mengandung banyak probiotik mikrobioma yang baik untuk kulit Anda guna mengurangi risiko infeksi bakteri yang lebih rentan timbul pada area bekas jahitan. 

Selain menggunakan bahan-bahan alami untuk melembapkan kulit di atas, Anda juga dapat melakukan cara menghilangkan rasa gatal pada bekas jahitan dengan terapi kompres maupun pijat. Penggunaan obat antihistamin maupun krim steroid pun dapat dipertimbangkan asalkan berkonsultasi dulu dengan dokter.

Tanda Tanda HIV Pada Wanita dan AIDS

  • October 15, 2021

HIV adalah sebuah virus yang menyerang dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko dan dampak dari infeksi serta penyakit lain. Tanpa perawatan, infeksi dapat berkembang menjadi tahapan yang lebih parah yang disebut AIDS. Dengan majunya dunia medis saat ini, orang-orang dengan HIV dan akses penyedia layanan kesehatan yang berkualitas jarang mengembangkan AIDS setelah mereka mendapatkan perawatan HIV. Untuk itulah Anda harus tahu tanda tanda HIV pada wanita guna bisa mendapatkan pemeriksaan dini jauh sebelum kondisi ini menyebabkan komplikasi berbahaya dan parah. 

Menurut pengamatan para ahli seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HIV telah menjadi sebuah kondisi yang dapat diatasi, dan banyak orang yang memiliki tanda tanda HIV pada wanita dapat hidup dengan sehat dan lama. Bahkan harapan hidup seseorang yang menderita HIV sekarang mendekati orang-orang dengan hasil tes negatif. Ini berkat obat-obatan yang disebut terapi antiretroviral dengan rutin dan teratur. Pada tahun 2019, sekitar 68 persen orang dewasa dan 53 persen anak-anak dengan HIV di seluruh dunia telah mendapatkan perawatan seumur hidup. 

Obat HIV dengan antiretroviral dapat menghambat perkembangan jumlah virus

Apa itu HIV dan AIDS?

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Dan virus ini menyerang sel imun yang disebut sel CD4. Ini adalah jenis sel T – sel darah putih yang bersirkulasi, mendeteksi infeksi di seluruh tubuh dan anomaly atau kerusakan sel-sel lain. HIV menarget dan menyerang sel CD4, menggunakannya untuk menciptakan lebih banyak salinan virus. Pada saat melakukannya, HIV merusak sel-sel dan mengurangi kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit lain. Hal ini akan meningkatkan risiko dan dampak infeksi oportunistik dan beberapa jenis kanker. Perlu diketahui, ada beberapa orang yang memiliki HIV dalam waktu lama tidak memiliki tanda tanda HIV pada wanita sama sekali. HIV merupakan sebuah kondisi seumur hidup, namun perawatan dan strategi tertentu dapat mencegah penularan virus dan infeksi untuk berkembang. 

Di sisi lain, AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome. Yang mana merupakan tahapan parah dari infeksi HIV. Dokter mengidentifikasi AIDS apabila Anda memiliki jumlah CD4 kurang dari 200 sel per milimeter kubik. Selain itu, dokter juga dapat melakukan diagnosis AIDS jika seseorang memiliki infeksi oportunistik karakteristik, yang dihubungkan dengan jenis kanker ataupun keduanya. Ketika tanda tanda HIV pada wanita dibiarkan dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat, AIDS berpotensi untuk berkembang, karena sistem kekebalan tubuh mulai melemah dengan perlahan. Akan tetapi, kemajuan dalam bidang perawatan antiretroviral membuat perkembangan AIDS menjadi jarang dijumpai. Di tahun 2018, ada sekitar 1,1 juta orang yang hidup dengan AIDS di Amerika Serikat, dan sekitar 6000 kematian berhubungan dengan AIDS. 

HIV menyebabkan tanda tanda HIV pada wanita. HIV dapat menular ketika cairan tubuh yang mengandung virus melakukan kontak langsung dengan lapisan tubuh atau adanya sayatan di jaringan yang lembap, misalnya di daerah alat kelamin. Khususnya, HIV dapat menular lewat darah, mani, cairan vagina, cairan rektum, dan ASI. Virus tidak dapat menular lewat air liur, sehingga seseorang tidak dapat tertular HIV hanya lewat ciuman saja. Salah satu penyebab utama penularan HIV di Amerika Serikat adalah hubungan seksual anal ataupun vaginal. Agar penularan terjadi, seseorang tidak memakai alat pengaman seperti kondom atau tidak mengambil PrEP, yaitu perawatan yang bertujuan untuk mencegah penularan HIV di antara orang-orang yang memiliki faktor risiko yang diketahui. Selain itu, HIV juga dapat ditularkan ke bayi oleh ibu pada masa kehamilan, persalinan, atau menyusui.