Apa Sajakah Peran Dokter Spesialis Bedah?

  • June 3, 2021

Dokter spesialis bedah adalah dokter spesialis yang mengobati penyakit, cedera, atau kondisi gawat darurat pada tubuh melalui metode bedah (operatif) dan obat-obatan. Untuk menjadi dokter bedah, seseorang harus menyelesaikan pendidikan dan profesi dokter umum, lalu menyelesaikan pendidikan spesialis ilmu bedah.

Dalam praktiknya, dokter spesialis bedah tak jarang menerima rujukan dari dokter umum atau dokter spesialis lain terkait kondisi pasien yang membutuhkan tindakan bedah. Kemudian, dokter bedah akan melakukan diagnosis sesuai keahlian dan ilmu yang dimiliki untuk menentukan perlu atau tidaknya prosedur bedah dilakukan.

Bedah vaskuler dapat mengatasi masalah yang ada pada pembuluh darah

Selain cabang ilmu bedah umum, seorang dokter bedah umum dapat mendalami keterampilan dan ilmu lebih dalam yang terbagi menjadi beberapa cabang subspesialisasi, yaitu

  • Bedah digestif atau saluran cerna
  • Bedah anak
  • Bedah onkologi
  • Bedah kepala leher
  • Bedah payudara
  • Bedah endokrin, untuk kelenjar penghasil hormon termasuk tiroid
  • Bedah pembuluh darah (vascular & endovascular)
  • Kegawatan dan cedera (traumatology)
  • Perawatan dan bedah transplantasi (pencangkokan organ)

Beberapa tindakan yang dilakukan dokter bedah umum antara lain, sebagai berikut ini.

  • Memberikan konsultasi, informasi, dan edukasi pada pasien maupun keluarganya terkait penyakit yang diderita.
  • Melakukan diagnosis penyakit berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang tersebut antara lain laparoskopi, endoskopi, pemeriksaan radiologis termasuk USG, Rontgen, CT-scan, MRI, PET-scan, dan pemeriksaan laboratorium.
  • Biopsi (pengambilan sampel jaringan) misalnya pada benjolan atau tumor pada bagian tubuh tertentu seperti tulang, kulit, usus, atau kelenjar getah bening.
  • Melakukan terapi dalam bentuk bedah invasif (operasi terbuka) maupun invasif minimal (sayatan kecil atau bahkan tanpa sayatan) beserta penanggulangan komplikasinya. Tindakan bedah dapat bersifat elektif (terjadwal lebih dini), atau emergensi (harus dilakukan sesegera mungkin).
  • Pembedahan pada usus buntu, hernia, mastektomi (pengangkatan payudara), kolostomi (pengangkatan usus besar), pengangkatan kandung empedu, dan amputasi.
  • Bedah emergensi, seperti pada kasus perforasi usus buntu, peritonitis, abses hati, pecahnya varises esofagus, sumbatan usus, komplikasi tukak lambung (perdarahan atau bocor lambung), hernia inkarserata, dan pneumothorax.
  • Pembuatan akses untuk prosedur cuci darah melalui pembuluh darah atau rongga perut.
  • Manajemen dan perawatan luka termasuk luka bakar, luka infeksi, dan luka pasca operasi.
  • Melakukan perawatan pasien sebelum, selama, dan setelah prosedur bedah, termasuk merencanakan terapi rehabilitasi kasus bedah.

Dokter spesialis bedah menangani penyakit yang memerlukan pembedahan sebagai upaya pengobatan. Beberapa penyakit tersebut di antaranya

  • Usus buntu
  • Peritonitis
  • Abses hati
  • Tumor jinak, seperti lipoma, fibroma, dan adenoma
  • Tumor atau kanker pada organ tertentu, seperti kanker payudara, kanker usus, dan kanker lambung
  • Hernia
  • Cedera/luka seperti luka tusuk dan bakar
  • Kelainan kongenital (cacat bawaan lahir)
  • Kelainan empedu, seperti batu empedu, infeksi dan radang empedu
  • Patah tulang dan dislokasi (pergeseran) tulang

Agar dokter bedah dapat memutuskan perlu tidaknya dilakukan operasi atau tindakan lainnya, pasien akan diminta menjalani serangkaian pemeriksaan medis, terutama jika memiliki riwayat penyakit seperti ini.

  • Kebiasaan merokok berat atau memiliki tekanan darah tinggi
  • Masalah pembekuan darah.
  • Diabetes atau memiliki gula darah tinggi sebelum operasi.
  • Apnea tidur obstruktif di mana mungkin terjadi henti napas atau tersedak saat tidur
  • Alergi obat, termasuk alergi obat bius
  • Kelainan jantung, hati, dan ginjal

Pemeriksaan yang biasanya dilakukan sebelum operasi, antara lain

  • Pemeriksaan fisik lengkap
  • Tes laboratorium, termasuk hitung darah lengkap dan gula darah
  • EKG (elektrokardiogram) untuk menilai kerja listrik jantung
  • Endoskopi
  • Rontgen, CT-scan, MRI, dan PET-scan

Jadi itulah peran dan tanggung jawab dari dokter spesialis bedah yang perlu Anda ketahui. Anda akan membutuhkan dokter spesialis bedah ini setelah berkonsultasi dengan dokter umum. Rujukan dari dokter umum ini yang akan membawa Anda bertemu dengan dokter spesialis bedah.

Jadi Rumah Sakit Rujukan Covid-19, RS Kurnia Cilegon Tetap Melayani Pasien Umum

  • June 2, 2021

Rumah Sakit Umum Kurnia Cilegon merupakan rumah sakit yang terletak di Jalan Jombang Masjid No. 4, Kel. Jombang Wetan, Kec. Jombang, Kota Cilegon, Banten. 

RS Kurnia Cilegon memiliki visi Menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas dan Mengutamakan Keselamatan Pasien di Wilayah Kota Cilegon dan Sekitarnya.

Dibangun di atas areal seluas 2775 M2 dengan konsep desain yang menciptakan lingkungan bersahabat, RS Kurnia Cilegon dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang cukup memadai. 

Sejarah singkat RS Kurnia Cilegon

RS Kurnia Cilegon merupakan pengembangan dari Rumah Bersalin Kurnia, yang memulai kegiatan operasional pada tahun 1982. Dalam kurun waktu 21 tahun perjalanan, ditambahkan fasilitas pelayanan obsterik dan ginekologi serta pelayanan poli umum 24 jam sejalan dengan semakin pesatnya perkembangan pelayanan kesehatan di Kota Cilegon. 

RS Kurnia menekankan budaya SIMPATI, yaitu Senyum, Integritas tinggi, Mutu, Peduli, Aman, Tepat, dan Ihsan. Agar seluruh masyarakat bisa menikmati fasilitas kesehatan, RS Kurnia Cilegon menerima pasien asuransi pemerintah seperti BPJS Kesehatan, maupun asuransi umum, perusahaan, atau industri. 

Fasilitas dan Pelayanan RS Kurnia Cilegon

RS Kurnia Cilegon melayani pasien dari hari Senin-Minggu, dengan layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ambulans 24 jam setiap hari. Rumah sakit ini didukung oleh dokter profesional dan ahli di bidangnya, yang memberikan pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, yaitu:

  • Dokter Umum
  • Dokter Gigi
  • Spesialis Penyakit Dalam
  • Spesialis Kebidanan dan Kandungan
  • Spesialis Anak
  • Spesialis Bedah
  • Spesialis Mata
  • Spesialis THT
  • Spesialis Kulit dan Kelamin
  • Spesialis Konservasi Gigi
  • Spesialis Urologi
  • Spesialis Saraf
  • Spesialis Paru
  • Spesialis Orthopedi
  • Spesialis Radiologi

Adapun penunjang medis lainnya meliputi:

  • Laboratorium (Patologi Klinis)
  • Instalasi Farmasi / Apotek
  • USG dan Radiologi (Rontgen)
  • Ruang Operasi
  • EKG
  • Fisioterapi
  • Instalasi Gizi

Untuk pasien rawat inap akan diberikan empat pilihan kamar dengan fasilitas yang berbeda, yaitu kelas VIP, ruang perawatan kelas I, II, dan III. 

Bagin pasien dengan kondisi tertentu, disediakan ruang perawatan khusus dan intensif seperti ruang HCU, isolasi, perinatologi, dan ruang perawatan bayi. 

RS Kurnia Cilegon ditunjuk sebagai Rumah Sakit Rujukan Covid-19

Membludaknya kasus penyebaran Covid-19 membuat Pemerintah Kota Cilegon menunjuk RS Kurnia Cilegon sebagai rumah sakit rujukan Covid-19. RS Kurnia diminta untuk menambah ruang isolasi perawatan pasien Covid-19. Hal ini dikarenakan penuhnya ruang isolasi di RSUD Cilegon dan  wisma karantina untuk pasien kategori orang tanpa gejala (OTG) Trans Hotel. 

Dilansir dari Beritasatu, untuk solusi jangka pendek sudah teratasi karena beberapa pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh sudah bisa pulang ke rumah. Tren penambahan kasus baru positif Covid-19 di Kota Cilegon pun tidak terlalu melonjak seperti sebelumnya, sehingga tidak ada pasien Covid-19 terlantar. 

Adapun RS Kurnia Cilegon diminta untuk tetap menyiapkan ruang isolasi tambahan khusus untuk merawat pasien Covid-19 jika seandainya kasus Covid-19 kembali meningkat. Solusi lainnya adalah dengan memindahkan pasien OTG (Orang Tanpa Gejala) untuk dirawat di rumah masing-masing dengan pengawasan dari petugas medis dan tim Satgas Penanganan Covid-19. 

Walaupun menjadi rumah sakit rujukan Covid-19, hingga kini RS Kurnia Cilegon tetap melayani pasien non-covid dengan menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19, seperti pemeriksaan suhu tubuh, penggunaan APD (seperti masker, sarung tangan, dan faceshield), budaya cuci tangan, dan jaga jarak. 

Catatan

Untuk membuat janji temu dan konsultasi dokter, Anda bisa menghubungi hotline RS Kurnia Cilegon atau datang langsung ke bagian registrasi faskes terkait. 

Bagaimana Pengobatan dari Penyakit Addison?

Bagaimana Pengobatan dari Penyakit Addison?

  • June 2, 2021

Penyakit Addison adalah kerusakan pada kelenjar adrenal sehingga tidak memproduksi hormon yang memadai untuk tubuh. Kelenjar adrenal berada di atas ginjal dan terdiri dari dua bagian, yaitu lapisan luar (korteks) dan lapisan dalam (medula). Korteks pada kelenjar adrenal berfungsi memproduksi hormon steroid, termasuk kortisol dan aldosteron, yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan garam dan cairan tubuh. 

Pada penyakit Addison, kelenjar adrenal hanya sedikit memproduksi hormon kortisol serta hormon aldosteron. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit Addison dapat membahayakan tubuh.

Gejala penyakit Addison pada awalnya sulit dideteksi karena mirip dengan gejala gangguan kesehatan lainnya. Gejala awal tersebut dalam kondisi seperti ini.

  • Kelelahan dan kurang bersemangat
  • Rasa kantuk
  • Otot menjadi lemah
  • Suasana hati tidak baik atau gampang marah
  • Selera makan hilang atau menurun, sehingga terjadi penurunan berat badan
  • Sering buang air kecil
  • Rasa haus bertambah
  • Keinginan mengonsumsi makanan asin

Setelah mengetahui gejala dan riwayat keluhan yang dialami pasien, dokter akan mendeteksi penyakit Addison dengan mengamati kondisi kulit, termasuk tanda hiperpigmentasi kulit pada area siku, telapak tangan, dan bibir. Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan serangkaian tes penunjang, seperti ini.

1. Tes darah

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah, natrium, kalium, hormon kortisol, aldosteron, dan adrenokortikotropik (ACTH), yaitu hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis. Kadar hormon aldosteron dan gula darah yang rendah serta hormon ACTH yang tinggi dapat menjadi tanda seseorang menderita penyakit ini. Tes darah juga dilakukan untukĀ  mengetahui jumlah antibodi yang bisa menjadi penyebab terjadinya kondisi autoimun pada penyakit Addison.

2. Tes stimulasi ACTH

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar hormon kortisol di dalam darah sebelum dan sesudah ACTH sintetis disuntikkan. Tes ini akan menunjukkan kerusakan pada kelenjar adrenal jika setelah penyuntikkan ACTH sintetis, kadar hormon kortisol rendah.

3. Tes hormon tiroid

Pada kondisi ini, kerja kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon juga akan terpengaruh. Kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid, yang berperan penting dalam mengendalikan perkembangan dan metabolisme tubuh.

4. Pencitraan

Pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI, dilakukan untuk mengetahui ukuran kelenjar adrenal yang tidak normal, juga kelainan pada kelenjar pituitari atau hipofisis, guna mengetahui penyebab dari insufisiensi adrenal.

5. Tes hipoglikemia induksi insulin

Tes ini biasanya dikerjakan bila dicurigai adanya insufisiensi adrenal sekunder yang disebabkan oleh gangguan kelenjar hipofisis. Tes hipoglikemia induksi insulin dilakukan dengan cara memeriksa kadar gula darah dan hormon kortisol setelah insulin disuntikkan. Orang yang sehat seharusnya memiliki kadar gula darah yang rendah dan kortisol yang meningkat setelah diberikan insulin.

Pengobatan penyakit Addison

Cara mengobati penyakit Addison yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi dua hal ini.

1. Terapi pengganti hormon

Penyakit Addison dapat diatasi melalui terapi hormon untuk menggantikan jumlah hormon steroid yang berkurang dan tidak bisa diproduksi tubuh. Berikut ini adalah pilihan terapinya.

Kortikosteroid tablet

Obat yang digunakan untuk menggantikan kortisol adalah prednison atau hydrocortisone. Sedangkan fludrocortisone digunakan untuk menggantikan aldosteron.

Kortikosteroid suntik

Biasanya diberikan pada penderita penyakit Addison yang mengalami gejala muntah, dan tidak bisa meminum kortikosteroid tablet.

2. Konsumsi garam

Pasien juga disarankan untuk banyak mengonsumsi garam, terutama setelah melakukan olahraga berat atau saat diare. Penting untuk mengikuti anjuran pengobatan untuk penyakit ini dari dokter. Pasalnya, jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa berujung pada krisis Addison.

Jadi, jika Anda mengalami gejala seperti di atas, segeralah periksakan ke dokter. Dokter akan melakukan beberapa rangkaian tes sebelum mendiagnosa diri Anda apakah terkena penyakit Addison atau tidak. Setelahnya, Anda bisa memilih pengobatan apa yang ingin dilakukan berdasarkan hasil tes medis yang sudah dilakukan.